srbnews.id
Kritis dan Membangun

Banten Surplus Jagung? Surplus Orang Koplak Mah Iya (2)

Oleh: Ucu Nur Arif Jauhar

Kebutuhan jagung di Banten memang tinggi. Penyebabnya ada 10 pabrik pakan ternak. Sehingga setiap tahunnya membutuhkan 900 ribu hingga 1,2 juta ton jagung. Ini belum termasuk kebutuhan masyarakat. Penyuplay jagung di Banten berasal dari Lampung dan NTB.

Catatan BPS Banten menunjukan kinerja Dinas Pertanian (Distan) Banten dibidang Jagung, hancur lebur. Produksi jagung di Banten sempat mencapai 33,18% kebutuhan pabrik. Setelah itu anjlok tajam tinggal 4,5% saja dalam 3 tahun. Eh malah keluar berita “Banten Dorong Surplus Jagung”. Ancur lebur kok dibilang dorong surplus. Koplak kan?

Produksi, Luas Tanam dan Produktivitas Jagung Banten (BPS)
2016 – 19,882 ton – 4.913 ha – 4,04 ton/ha
2017 – 635.128 ton – 16.018 ha – 3,96 ton/ha
2018 – 331.865 ton – 66.355 hektar – 5,00 ton/ha
2019 – 119.206 ton – 22.346 ha -5,33 ton/ha
2020 – 111.903 ton – 16.676 ha – 6,71 ton/ha
2021 – 58.661 ton – 8.892 ha – 6,59 ton/ha

Mencek konsistensi data BPS, maka produktivitas Jagung dikalikan luas tanamnya. Didapat:
2016 – 19.848 selisih 34 ton
2017 – 63.441 selisih 571.687 ton
2018 – 331.775 selisih 90 ton
2019 – 119.104 selisih 102 ton
2020 – 111.895 selisih 100 ton
2021 – 58.598 selisih 65 ton

Kecuali tahun 2017, tidak ada keanehan data Jagung BPS. Selisih pasti terjadi, tapi masih dalam batas toleransi. Sekitar 100-an ton saja.

Tahun 2017 memang perlu penjelasan lebih detail. Baik dari BPS Banten mau pun Dinas Pertanian Banten. Penjelasan paling gampang itu salah ketik. Karena angka depannya sama. 635.xxx dan 63.4xx. Salah ngasih titik.

Hal ini sesuai dengan berita “Produksi Jagung Di Banten Mulai Pasok Kebutuhan Industri Pakan” di situs bantenprov.go.id tertanggal 22 Pebruari 2019. Kepala Dinas Pertanian Banten menyebutkan produksi jagung Banten 2017 sebanyak 63.518 ton.

Tapi lebih menarik membicarakan Jagung Banten tahun 2021 yang diberitakan di tahun 2022 Distanak Mendorong Surplus Jagung.

Faktanya, setelah didorong Dinas Pertanian Banten, produksi jagung anjlok 52,42% dari tahun sebelumnya. Dari 111.903 ton tahun 2020 menjadi 58.661 ton tahun 2021. Orang itu kalau didorong maju, bukan mundur. Koplak kan?

Kadis Pertanian Banten Agus Tauhid sebagai narasumber tunggal dalam berita-berita itu bilang, produksi jagung Banten 2021 itu sebanyak 55.000 ton. Berarti ada selisih 3.598 ton dengan catatan BPS. Selisih luas tanam mencapai 545,97 ha. Luas Kecamatan Serang saja hanya 25,88 ha. Tidak kelihatankah oleh Dinas Pertanian Banten? Koplak total.

Okelah kalau Dinas Pertanian Banten berdalih bahwa 55.000 ton itu hanya produksi jagung yang dibiayai APBN. Tapi laporan APBN itu sendiri hanya mencantumkan produksi jagung sebanyak 44.789 ton. Ada selisih 10.211 ton dari omongan Agus Tauhid. Alias sekitar 1.464 hektar hilang entah kemana? Terlebih dibandingkan data BPS ada selisih 13.872 ton alias 2.000 hektaran. Masa nggak kelihatan? Kan koplak.

Paling koplak itu soal luas tanam jagung di Banten. Laporan tanam jagung dari APBN mencantumkan 9.450 ha. Tapi catatan BPS hanya menyebutkan 8.892 ha. Ada selisih 558 ha. Jangan-jangan ditanam secara virtual oleh Dinas Pertanian Banten. Koplak sangat.

Dari luas tanam, terindikasi ada perkebunan jagung virtual. Dari produksi, ada indikasi produk jagung virtual. Padahal ini menyangkut dana APBN sebesar Rp6,41 miliar. Terdiri dari kode RUP 29273951 Bantuan Benih Jagung Hibrida Rp3,30 miliar dan kode RUP 29273494 Bantuan Benih Jagung Hibrida (PEN) Rp3,11 miliar.

Pak Agus, mbok ya kalau mau memanipulasi data yang pinter dikit napah. Apakah bapak menganggap orang Banten itu bodoh-bodoh, sehingga tidak bisa melihat kekoplakan data tersebut.

Kalau Inspektorat, BPKP, BPK dan APH di Banten tidak bisa melihat kekoplakan data itu, bukan berarti rakyat Banten tidak melihat juga. Apakah pegawai-pegawai lembaga itu orang Banten? Kan belum tentu pak. Jangan disamakan. (g)